SUNGAI
Sungai Citarum adalah
sungai terbesar di Jawa Barat. Dengan
panjang sekitar 225 km, (sumber : kompas.com) Citarum melewati
beberapa kawasan Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Bandung. Beberapa
bagiannya memiliki arus yang cocok digunakan untuk olahraga air seperti arung
jeram.
Di salah satu bagian sungai
yang berada di Rajamandala, siswa palawa akan menjalankan tugasnya sebagai
salah satu rangkaian diklatdas palawa XXVII. Jeram citarum dipilihkan panitia
untuk menempa para siswa diklat. Kegiatan ini jadwalkan pada hari Jum’at, 5
April 2013.
Setelah serangkaian materi kelas, simulasi,
dan cek peralatan, 33 siswa diberangkatkan menggunakan bekang pada pukul 18.00.
Walaupun terlambat dari waktu yang dijadwalkan, namun menurut saya itu masih
wajar. Saya pribadi keterlambatan seperti ini tidak terulang lagi di kegiatan
selanjutnya karena bagaimanapun show must
go on. Hal-hal seperti ini kadang akan melemahkan kita, memanjakan kita
terhadap suatu situasi sehingga menjadi suatu budaya. Celakanya, budaya ngaret ini adalah budaya yang jelek.
Perjalanan menuju medan
operasional terasa mencekam. Kami duduk di bekang menghadap lurus kedepan
dengan pandangan kami yang dibatasi. Pelatih
mengawasi kami di bagian belakang bekang. Yang saya tahu pasti kami melewati
jalan Tol masuk pintu Cileunyi dan keluar di Padalarang. Sekitar pukul 22.00
kami tiba di sebuah lapangan sepak bola dan mulai berbaris per kelompok. Saya
ada di kelompok 4 bersama saudaraku Anggi, saudaraku Eci, Saudaraku Nia,
Saudaraku Uzi, dan Saudaraku Rizqi. Kami ditugaskan membuat bivak kelompok dari
ponco dengan waktu yang telah ditentukan. Setiap keterlambatan waktu mendapat
konsekuensi. Membuatan bivak di malam hari, di sebuah tempat yang asing bagi
kami menurut saya menjadi tantangan tersendiri. Suara gemuruh sungai
seakan-akan menyuruh untuk bergegas menyelesaikan bivak. Suaranya terdengar
jelas karena kami benar-benar berada di pinggir sungai dengan arus yang deras
karena hujan yang intens di kawasan
itu sehingga debit air bertambah dari biasanya.
Pukul 24.00 bivak selesai
dengan susah payah bekerja sama dan setelah menunaikan beberapa seri sebagai konsekuensi
dari kemoloran waktu yang ditentukan. Kami dikumpulkan untuk makan malam. Menu
yang di santap adalah menu yang dbeli sebelum keberangkatan. Sebuah ritual yang
bagus menurut saya, sebelum menyantap makanan kami berdoa dan menyanyikan lagu
syukur. Hal tersebut membuat waktu makan saat operasional menjadi waktu yang
sangat istimewa. Setelah itu kami langsung diinstruksikan untuk tidur.
Keesokan harinya kami
dibangunkan pada pukul 04.00 untuk membongkar bivak dan menyiapkan sarapan. Tugas
dibagi, setiap orang dengan tugasnya melakukan semaksimal mungkin. Suasana
adaptsi siswa-siswa masih terasa karena masih ada yang mendapat jatah seri
dalam pengerjaan tugas itu. Saya pun mendapat jatah karena tidak sengaja
menyiramkan air panas ke saudaraku Eci saat bermaksud mengisi veldples. Kumandang
adzan subuh menemani kegiatan kami saat itu.
Hingga saat matahari mulai
terbit, tugas kami mulai terselesaikan. Saat sarapan sudah jadi, kami binjas
bersama dulu di area kemah yang luas karena memang itu adalah lapangan sepak
bola. Kami pun menyantap hidangan sarapan setelah bijas selesai. Setelah ritual
dilakukan, para siswa menyantap hidangan buatan kelompoknya dengan lahap.
Kelompok saya membuat sarden dan tempe goreng. Sarapan yang nikmat setelah
melakukan sejumlah tugas dan binjas.
Setelah sarapan habis, siswa
membereskan semua peralatan dan packing
kembali semuanya dalam carrier. Karena
setelah itu kegiatan utama akan dimulai, arung jeram. Namun sebelumnya kami
melakukan scouting dulu, yaitu melihat kondisi sungai. Yang kami lakukan saat
itu adalah scouting darat. Saat scouting kami menyamakan persepsi yang mana mainstream sungainya, dan beberapa
hambatan sungai yang ada seperti hole
dan steiner. Standing hole yang
terbentuk terlihat banyak karena debit sungai saat itu sedang besar setelah
hujan yang intens disana.
Lalu siswa dibagi per kloter
berdasarkan kelompok untuk simulasi self rescue, yaitu dengan renang defensive dan offensive. Renang defensive adalah renang mengikuti arus sungai,
kita membiarkan tubuh kita berenang sesuai arah arus. Yang perlu diperhatikan
pelampung yang baik dan pas dibadan, helm, dan kaki harus terangkat untuk
menghindari terjepit dibebatuan dasar sungai. Jika dalam keadaan rescue yang
sebenarnya, dayung tidak boleh terlepas. Saat terjatuh dari perahu, pastikan
peralatan seperti pelampung, helm, dan dayung ada, tidak terlepas. Sedangkan
renang offensive adalah renang
melawan arus sungai, ini dilakukan untuk menepi atau menggapai perahu. Disini
kita benar-benar mengerahkan kekuatan kita untuk berenang. Bagi yang tidak bisa
berenang, ini menjadi perjuangan yang lebih. Namun menurut saya berenang akan
lebih mudah denga dayung dipegang.
Setelah semua siswa
melakukan simulasi self rescue, kami diinstruksikan untuk melakukan pengarungan
pendek. Kami membawa perahu ke titik awal dengan teknik portaging. Portaging adalah
membawa perahu yang sudah diisi angin dengan kepala secara bersama-sama.
Pengarungan pendek dibagi 2
kloter, kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 mendapat giliran pertama.
Sehingga saya dan saudara-saudara yang lainnya menunggu giliran.
Namun karena terjadi incident, pengarungan pendek dihentikan.
Saudaraku kelompok 1 melebihi titik akhir pengarungan pendek. Sehingga mereka
berhenti sampai jembatan lama, dimana itu adalah titi akhir untuk pengarungan
panjang.
Kami pun kembali ke tempat
kemah untuk membuat bivak dan memasak makan malam. Menu kelompok 4 kali ini sop
dan telur asin. Hujan menemani saat saat kami mempersiapkan semuanya, namun
beruntung hujan mereda setelah waktu makan. Setelah itu kami diinstruksikan
untuk cek kesehatan lalu pergi tidur.
Pagi harinya kami
dibangunkan kali ini tepat saat adzan subuh berkumandang. Kami kembali dengan
kegiatan mempersiapkan sarapan dan bongkar bivak lalu binjas. Sarapan dilakukan
setelah semua itu. Kelompok 4 mendapat teguran karena porsi makanannya sedikit,
namun menurut saya itu cukup karena menunya yang beragam yaitu kornet, telur
asin, udang, dan abon ditambah susu.
Kegiatan dilanjutkan untuk
yang belum kebagian pengarungan pendek, yaitu kelompok 4, kelompok 5, dan
kelompok 6. Peralatan dibagikan per orang per kelompok. Pelampung, helm, dan
dayung diberikan masing-masing. Dry bag,
rescue row, sling dan karabiner diberikan sebagai peralatan kelompok. Kami
semua memportaging perahu ke titik awal. Sampai disana kami melakukan body
check, yaitu memastikan perlengkapan yang menjadi pengaman seperti helm dan
pelampung sudah terpasang dengan baik dan dalam kondisi yang baik.
kelompok 4 ditemani Kang
Eman dari angkatan Geger Patuha. Kami memulai pengarungan pendek dengan baik.
Evaluasi dari pengarungan pendek adalah jeram akan mempersulit pendayungan,
contohnya perahu jadi tidak stabil sehingga ketinggian pendayung kiri dengan
kanan berbeda. Saat seperti itu mungkin yang kiri bisa mendayung tapi yang
kanan tidak bisa karena bilah dayungnya tidak mencapai air.
Kami kembali memportaging
perahu ketitik awal untuk pengarungan panjang. Setelah semua siap diperahu,
badan digerak-gerakan kesegala arah untuk memastikan posisi duduk sudah baik. Perahu
pun meluncur, melewat jeram-jeram citarum. Lengan-lengan kami mendayung kompak
mengikuti mainstream Citarum. Cara-cara mendayung yang telah dipelajari
digunakan disana. Ada dayung maju, dayung mundur, kiri balik, dan kanan balik.
Kang Eman juga menjelaskan tentang ferrying.
ferrying adalah teknik maneuver
dengan memperhatikan bentuk belokan sungai dan arus yang ada sehingga sudut
yang harus dibentuk oleh perahu sesuai dengan perkiraan.
Kami pun melakukan simulasi
flip saat arus tidak begitu besar. Saat ada aba-aba pindah kanan atau kiri,
semua orang dalam perahu menuju arah itu sehingga perahu terbalik. Perahu
dikembalikan ke posisi semula menggunakan flip
line. Yang perlu diperhatikan, dayung jangan sampai terlepas dari genggaman
karena alat itu rentan untuk hilang.
Setelah melewati jeram-jeram
Citarum, arus mulai tenang. Dayungan mulai sangat dibutuhkan untuk menggerakkan
perahu. Disela-sela mendayung kami diajarkan lagu Ampar-Ampar Bivak. Mengambil
nada lagu Ampar-Ampar Pisang dengan modifikasi lirik.
Pengarungan panjang berakhir
di Jembatan lama, kami memporteging perahu ke jalanan. Selanjutnya perahu
diangkut dengan angkot. Sampai di base camp kami beristirahat untuk makan siang
snack dan solat. Terimakasih Palawa.
Kami membersihkan alat-alat
yang telah dipakai seperti dayung, pelampung dan helm. Lalu Setelah saudara-saudara
dari kloter dua selesai, kami bersama-sama membersihkan perahu. Setelah itu
perahu dan peralatan lainnya dipacking. Kegiatan operasional berakhir. Kami
dipersiapkan untuk pulang saat adzan magrib berkumandang.
Dua bekang datang untuk
membawa kami kembali ke Jatinangor. Satu Bekang kami isi oleh carrier dan peralatan, satunya lagi
untuk kendaraan kami ber-33 ditambah beberapa pelatih. Perjalanan pulang terasa
lebih singkat. Sampai disana kami mengadakan apel dan akhirnya dibubarkan.
Operasional 1 berakhir,
namun ini bukan akhir. Masih banyak yang harus ditempuh.
Operasional-operasional lain menanti di depan sana. Namun apapun itu, semua
harus dilewati untuk menjadi anggota Palawa, untuk menjadi lebih bangga lagi.
Maka saat pelatih mengatakan siapa kalian, kami menjawab, Palawa!
TEBING
Belay On, On Belay. Komunikasi
antara pemanjat dengan belayer yang harus diucapkan dengan lantang saat
akan memulai pemanjatan. Ditambah
teori-teori dan materi-materi yang lain yang sudah diterima saya dan
siswa diklat lainnya memantapkan kesiapan kami untuk berangkat ke medan
operasional II, yaitu rock climbing di Citatah 90. Sesuai jadwal, kami
berangkat pada hari Jum’at, 3 Mei 2013.
Sesuatu hal terjadi sesaat sebelum berangkat. Saudara kami Gavril
tidak mendapat izin dari pihak keluarganya. Kesiapan untuk berangkat menjadi
percuma saat orang tua tidak memberikan izin. Jumlah kami kian berkurang,
dengan tidak diizinkannya saudaraku Gavril total kami tinggal 29 orang. Sudah 4
orang berkurang setelah medan operasional I.
Diklat harus tetap berjalan, saya dan 28 siswa diklat menggunakan
bekang untuk menuju medan operasional II. Matahari terbenam di Jatinangor seakan
mengantar keberangkatan kami menuju Citatah. Setibanya kami disana kami memulai
dengan makan malam. Beruntung, makan malamnya adalah makanan yang dibeli
sebelum keberangkatan sehingga tak memerlukan waktu untuk memasaknya. Setelah
itu kami membuat bivak. Saya dan saudara-saudara kelompok 2 membagi tugas.
Saudaraku Doni, Saudaraku Rizqi Mulia, Saudaraku Utami, dan sebagai Danru Saudaraku
Diendra bersama-sama membangun 2 bivak untuk kami tidur malam itu. Setelah
bivak berdiri kami diinstruksikan untuk melakukan cek medic lalu tidur untuk
memulai kegiatan keesokannya.
Sabtu, 4 Mei 2013 kegiatan dimulai. Siswa diklat dibagi menjadi kelompok
kecil, 1 kelompok beranggotakan 3 orang. Saya bersama saudaraku Diendra dan
saudaraku Rizqi Mulia. Kegiatan dibagi menjadi 4 pos, pertama travers, kedua
panjat, ketiga hauling, keempat ascending dan bolting.
Pos pertama travers ditujukan untuk melatih kemampuan membuat
pengaman baik natural ataupun artificial. Pengertian traver itu sendiri ialah
memanjat kesamping. Kebanyakan rekahan atau celah yang ada hanya cocok untuk
python blade. Namun ada beberapa yang cocok untuk fren atau chok.
Pos kedua panjat adalah aplikasi penggunaan artificial anchor ke
tebing dengan kita melakukan pemanjatan dari bawah. Tim menyepakati dahulu
siapa yang akan menjadi leader, pemanjat kedua, dan cleaner. Saya menjadi
leader, saudaraku Rizqi menjadi pemanjat kedua, dan Saudaraku Diendra menjadi
cleaner. pemanjatan berjalan lancar tanpa ada incident yang berarti. Namun saya
pribadi masih merasa kurang sigap dan fokus. Sehingga saat repling waktu sudah
melebihi waktu maghrib. Kegiatan dilanjutkan besok.
Minggu, 5 Mei 2013 lanjut ke Pos ketiga, hauling. Disana kami
berlatih tentang pemindahan beban. kami
berlatih A system, Z System, dan M System. Pertama-tama kami menggunakan
prushik setelah itu kami menggunakan ascender. Prinsip utama untuk mengubah
systemnya adalah pada system z, tali gaya pada system A diubah menjadi tali
gaya, pada system M, tali gaya pada system Z diubah menjadi tali gaya.
Pos terakhir adalah Ascending dan bolting. Karena Ascending masih
ada saudara kami yang masih berkegiatan disana, maka kami menuju bolting
dahulu. Disana kita diajarkan bagaimana mengebor/ memaku tebing. Namun hal ini
adalah pilian terakhir saat tidak ada lagi tonjolan, rekahan, celahan, atau
natural yang bisa digunakan untuk tambatan, anchor, atau penambah ketinggian.
Mengapa demikian? karena Hanger yang tertanam di tebing akan tertanam untu
selamanya. jadi secara tidak langsung itu mengotori tebing,
Lalu kami melanjutkan kegiatan terakhir yaitu ascending. Ascending
dilakukan untuk menghemat tenaga karena kita menggunakan ascender untuk naik,
tidak memanjat. Khususnya saat kita melakukan pemanjatan dengan taktik
Himalayan System. Hal yang harus diingat adalah saat kanan naik, maka bebankan
ke sebelah kiri. begitu seterusnya.
Kegiatan
berakhir untuk sebagian kami, namun masih ada saudara-saudaraku yang
berkegiatan. Disela-sela waktu menunggu kami menyayikan lagu saya tunggu
engkau. Hingga salah satu saudara kami yang di pos panjat berteriak Free Rope
menandakan tali sudah bebas dan orang terakhir pun repling.
Operasional kali ini terasa berlangsung lebih cepat dibandingkan
dengan operasional sebelumnya. hal itu karena saat kami tiba di Jatinangor
adalah waktu yang sama saat kami berangkat dari Jatinangor di hari yang
berbeda. Matahari terbenam Jatinangor menyambut kami.
GUA
Operasional
caving adalah yang paling ditunggu-tunggu karena merupakan pengalaman yang baru
untuk mengunjungi gua, bermain di dalam kegelapan. Kami menuju kawasan karst Padalarang untuk menuju gu ayang akan dikunjungi. Seperti biasa bekang sudah
siap sedia mengantarkan kami.
Jalan yang amat
terjal membuat kami harus berhenti sejenak, karena bekang tak dapat melalui
jalan yang biasa sehingga kami memutar. Tiba di lokasi operasional, kami disambut
hujan deras. Namun hujan saja tak akan menghentikan langkah kami. Kami memulai
dengan makan malam, ditengah hujan deras. Makanan yang sudah tak jelas wujudnya
pun terpaksa kami makan, dengan tak nyamannya memakai ponco, dan tempat yang
tidak datar.
Setelah makan kami mulai berjalan menuju
lokasi camp. Saya dan rekan-rekan kelompok membagi tugas untuk membuat bivak.
Hardi, Farah Qonita, Muniarsih, Risky Mulya dan Saya bekerjasama untuk
membangun dua bivak untuk kami berlima. Di tengah hujan, bivak kami berdiri.
Pengalaman ini
membuat saya terinspirasi untuk sebuah nama, yaitu Brisadi Estungkara. Kedua
kata tersebut diambil dari bahasa sansekerta. Brisadi adalah tenda dan
estungkara adalah kesanggupan menghadapi masalah.
Keesokan harinya kami memulai dengan
kegiatan eksplorasi gua. Gua yang dituju adalah gua lalay. Sebelum memulai kami
menyiapkan alat-alat yang akan dipakai. Danru kami, Farah Qonita memakai helm
eksplorer.
Singkat cerita
kami masuk ke dalam gua. Di kegelapan langkah terasa berat. Nafas begitu terasa
hangat. Namun cahaya dari headlamp masih menerangi bagian-bagian gua yang lain,
bagaimanapun kita harus mengeksplornya karena ini masih bisa dieksplor. Lorongnya
mengecil dan berada diatas kepala kita. Sulit melaluinya dengan membawa carrier,
untuk itu saya titipkan dulu carrier ke saudaraku Riski Mulya. Perlahan tapi
pasti tonjolan dan rekahan di lorong itu aku genggam dan pijak untuk beralih ke
posisi yang lain. Lorong itu singkat, dan membawa kita ke sebuah ruangan yang
lebih besar dari ruangan sebelumnya. Dindingnya tak beraturan, namun yang jelas
salah satu sisinya berbentuk diagonal dan penuh dengan guano.
Tak heran
mengapa gua ini dinamakan gua lalay. Dalam bahasa Sunda, lalay berarti
kelelawar. Gua ini menjadi sarang bagi kelelawar-kelelawar. Saat kami
berkunjung kesana tak jarang kelelawar terbang di depan kami. Guano yang banyak
di dalam gua juga menunjukan akan adanya kelelawar.
Di gua lalay
terdapat ornamen-ornamen gua yang beragam. Ada goursdam, straw, stalaktit,
stalakmit, kami mendapat kesempatan untuk mengabadikan ornament-ornamen
tersebut. Disalah satu bagian gua kami mencoba untuk memotret dengan teknik
melukis. Kang Aksel dan Kang Nanang memberitahu bagaimana caranya.
Setelah itu kami
melanjutkan dengan pemetaan gua, bersama Kang Adun. Disini terdapat sedikit
incident. Saudaraku Muniarsih dan Risky Mulya sempat terjatuh saat hendak turun
ke bagian gua yang lebih rendah. Syukur tak ada luka serius dari mereka.
Malamnya kami
kembal membuat bivak. Cuaca tidak hujan namun medan yang basah membuat
pembuatan bivak sedikit terhambat. Saat membuat bivak, sesuatu masuk ke dalam
telingan kanan saya. Serangga terbang bisa saya rasakan karena ia
mengibas-kibaskan sayapnya di dalam telinga saya.
Awalnya saya
abaikan serangga itu namun lama-kelamaan keberadaannya di telinga kanan saya
mulai menggangu. Beruntung kelompok kami bisa menyelesaikan bivak dengan cepat.
Hingga setelah makan malam saya dan saudaraku Hardi mendapat sebatang rokok
atas reward dari kesigapan kami. Namun serangga di telinga saya mulai
menimbulkan rasa sakit.
Maka setelah makan saya bermaksud untuk
memberitahukannya pada medis saat cek medis. Tak disangka, serangganya telah
masuk lebih dalam. Untuk itu tim medis menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit
untuk penanganan lebih lanjut.
Saat
saudara-saudara saya yang lain beristirahat, saya di temani kang Iksan, kang
Zul. dan medis berangkat menuju rumah sakit terdekat yaitu RS. Cibabat. Namun
dari sana saya dirujuk ke RSHS untuk penanganan yang lebih baik.
Setelah ditangani
oleh bagian gawat darurat, akhirnya saya kembali ke medan operasional. Adzan
subuh menandai kembalinya saya ke kawasan gua. Saya beristirahat di saung,
jalan menuju camp. Sebenarnya saya tidak terlalu sakit, namun melihat reaksi
medis saya pun khawatir terutama bila nanti menjadi tuli. Bersyukur ini
langsung ditangani.
Esoknya saya
bangun, telinga kanan saya mengeluarkan darah. Namun tidak terasa sakit. mudah
mudahan semuanya baik-baik saja. Saya pun kembali mengikuti kegiatan tanpa
binjas dahulu. Saya langsung bergabung saat sarapan.
Lalu kegiatan
kami yang terkahir tiba, yaitu Rigging dan SRT. Ini yang saya tunggu. cerita
dari kelompok lain yang sudah berkegiatan ini, lokasinya jauh ke atas lagi. Dan
ternyata itu benar, jalan yang harus ditempuh dengan bawaan yang lumayan cukup
menguras keringat.
Kegiatan
dilakukan perkelompok, kelompok saya dipilih saudaraku Hardi sebagai
leader. Kedua saudaraku Muniarsih,
ketiga saudaraku Risky Mulya, dan saya sebagai cleaner.
Kelompok kami
berjalan lancar namun kelompok satunya mengalami incident. Saudaraku Diendra
terjatuh saat akan mencapai mulut gua. Beruntung tak ada cedera berarti.
Singkat cerita operasional berakhir. bekang
mengantarkan kami kembali, namun sedikit tertahan karena ada masalah di jalan
turun sebelum ke jalan raya.
Kejadian dengan
serangga sungguh kecelakaan yang konyol tapi hal ini justru menimbulkan hikmah
tersendiri. Sehingga bertambah lagi alasan mengapa saya harus bergabung dengan
Palawa. Kami tiba dan langit pun kembali hujan.
GUNUNG HUTAN
Sakit di kaki
terasa semakin menjadi. Beban carier terasa semakin berat, padahal logistic
perbekalan sudah berkurang banyak. Aku tak tahu ini hanya sugesti atau apa,
tapi setibanya kami di Jatinangor semuanya terasa semakin parah.
Udara Jatinangor
terasa lebih panas. Mungkin Aku yang lupa akan udara Jatinangor, karena telah
sepekan kami berada di kawasan Bandung Selatan. Ditambah lagi kabar akan
dilanjutkannya rangkaian Diklatdas menuju Medan Operasional Susur Pantai,
seakan menghanguskan diri ini dengan bayang-bayang panasnya dataran pantai.
Aku pun mulai
melihat saudara-saudaraku yang lain sudah tak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Ada yang merajuk, berurai air mata, melemahkan dirinya dengan
pikiran-pikirannya.
Namun bersyukur masih ada saudaraku yang
bersemangat dan menyemangati kami semua, sehingga dalam getir angkatan 27 masih
bisa melangkah.
Setelah
berjalan dari awal diturunkan di gerbang atas, kami diberhentikan di dekat
gedung Bale Santika. Disana kami diberikan waktu untuk membersihkan diri sambil
di briefing mengenai kegiatan selanjutnya. Kami akan berjalan menuju
secretariat dan menyimpan carier. Lalu diberi kesempatan untuk mencari tambahan
perbekalan dan kembali berkumpul pukul 21.00 di secretariat bersama.
Mau
tak mau ternyata diklatdas belum usai. Bagaimanapun aku harus menyelesaikannya.
Semangat yang mulai redup harus tetap dijaga agar tidak padam. Namun ini sulit,
karena ditengah-tengah briefing pikiran ini tak bisa fokus. Kampus seperti
tempat yang asing. Aku mulai mengingat-ingat kembali bagaimana Medan
Operasional Gunung Hutan ini diawali. Rangkaian materi kelas, simulasi, dan cek
alat yang telah dilakukan samar-samar kembali terbayang.
Seperti
materi kelas yang diberikan setiap sebelum operasional. Materi untuk gunung
hutan terbilang sedikit dibadingkan dengan materi-materi untuk operasional
lainnya. Sabtu, 6 Juni 2013 kami memulai dengan materi pertama. Pematerinya
ialah Kang Bayu Baruna atau biasa dipanggil Kang Barbar.”Saat di keadaan
ekstrem, inner strength kita menyeruak”, begitu sebagian kecil perkataan Kang
Barbar yang sangat ku ingat. Awalnya kalimat itu terdengar klise, namun saat
aku benar-benar merasakan bagaimana dinginnya kawasan hutan bandung selatan
kalimat itu mulai terasa kebenarannya. Apatis yang mulai membuat kita mulai
melemah. Namun tekanan dari pelatih dan dorongan dari saudara-saudara yang lain
membuat kekuatan muncul. Walau rasanya tak mungkin, tapi semua rintangan dapat
dilalui.
Lalu materi
navigasi darat yang disampaikan oleh Kang Hidayat atau biasa dipanggil kang
Dayat. secara garis besar materi tersebut membahas resection, intersection,
teknik pergerakan. penerapannya di medan operasional saat kami berada di
perkebunan teh, sebelum memasui hutan. Disana kami melakukan intersection dan resection.
Untuk resection, dua titik ekstrimnya adalah bukit dua-dua dan gunung patuha.
Selanjutnya ada
materi survival yang disampaikan Kang Margo. Survival adalah bertahan dalam
kondisi yang tidak menentu. Kang Margo menyampaikan banyak hal tentang survival
karena pengembaraanya dulu adalah gunung hutan, tapi dari sekian banyak yang
disampaikan menurutku survival adalah usaha mempertahankan diri dengan
improvisasi dan rencana untuk keluar dari kondisi tidak menentu yang sedang
dialami.
Selain itu juga
ada Kang Yuda, tim medis dari As syifa yang memberikan materi medic darurat.
aku excited untuk mengikuti materi ini, terlebih setelah kejadian serangga di
operasional caving. Maka saat materi aku turut aktif dan kadang menjadi korban
untuk beberapa pertolongan (alibi, sebenarnya karena tubuhku paling kecil
diantara saudara laki-laki yang lain), tapi tidak seluruh materi dapat ku
mengerti, mungkin karena penerapannya hanya sekedar dalam keadaan darurat.
Namun ada satu
materi kelas yang aku tak ikuti karena saat itu ada saudaraku dari Kuningan
yang berkunjung, sehingga aku harus menemaninya selama berada di Bandung.
Simulasi
dilakukan disekitaran kampus, sedikit keluar sampai akhirnya aku tahu bahwa ada
makan pahlawan Unpad.
Cek alat
dilakukan tiga kali. Lebih banyak dibandingkan cek alat yang dilakukan saat
medan operasional yang lainnya. Masuk akal bagiku karena lama perjalanan
operasional akan berlipat-lipat lebih lama dari pada operasional lainnya. Namun
sebagian saudara-saudaraku malah mulai turun semangatnya (begitu juga aku) dan
saudaraku-saudaraku yang lain mulai berguguran karena berbagai alasan. Nia
karena dilarang orang tua, Utami bentrok dengan jadwal praktikum, Farah Qoonita
dan Gresty karena cedera yang tak bisa sembuh saat waktu keberangkatan, dan Nia
karena tak dapat izin dari orang tuanya.
Hari Jum’at, 29
Juni 2013 kami dikarantina sebelum keberangkatan. Kami dikumpulkan untuk cek
alat terakhir di sekber lalu tidur disana agar dapat segera berangkat esok
harinya. Kami semua excited untuk mengikuti medan operasional kali ini, dengan
harapan kami ber-23 dapat berdiri tegak di hari pelantikan. Semua peralatan
sudah disiapkan, tak lupa fisik dan materi-materi yang telah diterima. Sial
bagiku, ada peralatan yang ketinggalan. Veldples, yang menjadi tempat untuk
membawa air minum tak terbawa. Untung saja, Farah Qonita bisa meminjamkan
veldplesnya. Namun karena kurang sigap, cek alat terakhir tersebut molor dari
jadwal yang seharusnya sehingga mengurangi waktu istirahat kami.
Keberangkatan
yang dijadwalkan pukul 6 pagi ngaret menjadi pukul 7. Susah merubah hal ini,
namun jika telah menjadi anggota telat seperti ini tak boleh terjadi lagi
harapku dalam hati.
Sebelum
berangkat kami apel dahulu, dan danlas yang terpilih adalah saudaraku Anisa.
padahal besar harapanku untuk bisa menjadi danlas karena dari awal rangkaian
aku hanya pernah menjadi danru saat operasional arung jeram. Tak apa, mungkin
aku belum layak pikirku.
perjalanan
dengan bekang terasa lebih lama. Sepanjang jalan mataku selalu mencoba mencuri
pandang keadaan jalan lewat celah-celah dalam bekang. Beberapa saudaraku bahkan
sempat tertidur. Mungkin karena waktu istirahat yang tercuri ketidak sigapan
kami atau karena angin yang masuk kedalam bekang yang menina bobokan.
Komentar
Posting Komentar