Langsung ke konten utama

[latepost] rangkaian MO



SUNGAI

Sungai Citarum adalah sungai terbesar di Jawa Barat.  Dengan panjang sekitar 225 km,  (sumber : kompas.com) Citarum melewati beberapa kawasan Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Bandung. Beberapa bagiannya memiliki arus yang cocok digunakan untuk olahraga air seperti arung jeram.
Di salah satu bagian sungai yang berada di Rajamandala, siswa palawa akan menjalankan tugasnya sebagai salah satu rangkaian diklatdas palawa XXVII. Jeram citarum dipilihkan panitia untuk menempa para siswa diklat. Kegiatan ini jadwalkan pada hari Jum’at, 5 April 2013.
 Setelah serangkaian materi kelas, simulasi, dan cek peralatan, 33 siswa diberangkatkan menggunakan bekang pada pukul 18.00. Walaupun terlambat dari waktu yang dijadwalkan, namun menurut saya itu masih wajar. Saya pribadi keterlambatan seperti ini tidak terulang lagi di kegiatan selanjutnya karena bagaimanapun show must go on. Hal-hal seperti ini kadang akan melemahkan kita, memanjakan kita terhadap suatu situasi sehingga menjadi suatu budaya. Celakanya, budaya ngaret ini adalah budaya yang jelek.
Perjalanan menuju medan operasional terasa mencekam. Kami duduk di bekang menghadap lurus kedepan dengan pandangan kami yang dibatasi.  Pelatih mengawasi kami di bagian belakang bekang. Yang saya tahu pasti kami melewati jalan Tol masuk pintu Cileunyi dan keluar di Padalarang. Sekitar pukul 22.00 kami tiba di sebuah lapangan sepak bola dan mulai berbaris per kelompok. Saya ada di kelompok 4 bersama saudaraku Anggi, saudaraku Eci, Saudaraku Nia, Saudaraku Uzi, dan Saudaraku Rizqi. Kami ditugaskan membuat bivak kelompok dari ponco dengan waktu yang telah ditentukan. Setiap keterlambatan waktu mendapat konsekuensi. Membuatan bivak di malam hari, di sebuah tempat yang asing bagi kami menurut saya menjadi tantangan tersendiri. Suara gemuruh sungai seakan-akan menyuruh untuk bergegas menyelesaikan bivak. Suaranya terdengar jelas karena kami benar-benar berada di pinggir sungai dengan arus yang deras karena hujan yang intens di kawasan itu sehingga debit air bertambah dari biasanya.
Pukul 24.00 bivak selesai dengan susah payah bekerja sama dan setelah menunaikan beberapa seri sebagai konsekuensi dari kemoloran waktu yang ditentukan. Kami dikumpulkan untuk makan malam. Menu yang di santap adalah menu yang dbeli sebelum keberangkatan. Sebuah ritual yang bagus menurut saya, sebelum menyantap makanan kami berdoa dan menyanyikan lagu syukur. Hal tersebut membuat waktu makan saat operasional menjadi waktu yang sangat istimewa. Setelah itu kami langsung diinstruksikan untuk tidur.
Keesokan harinya kami dibangunkan pada pukul 04.00 untuk membongkar bivak dan menyiapkan sarapan. Tugas dibagi, setiap orang dengan tugasnya melakukan semaksimal mungkin. Suasana adaptsi siswa-siswa masih terasa karena masih ada yang mendapat jatah seri dalam pengerjaan tugas itu. Saya pun mendapat jatah karena tidak sengaja menyiramkan air panas ke saudaraku Eci saat bermaksud mengisi veldples. Kumandang adzan subuh menemani kegiatan kami saat itu.
Hingga saat matahari mulai terbit, tugas kami mulai terselesaikan. Saat sarapan sudah jadi, kami binjas bersama dulu di area kemah yang luas karena memang itu adalah lapangan sepak bola. Kami pun menyantap hidangan sarapan setelah bijas selesai. Setelah ritual dilakukan, para siswa menyantap hidangan buatan kelompoknya dengan lahap. Kelompok saya membuat sarden dan tempe goreng. Sarapan yang nikmat setelah melakukan sejumlah tugas dan binjas.
Setelah sarapan habis, siswa membereskan semua peralatan dan packing kembali semuanya dalam carrier. Karena setelah itu kegiatan utama akan dimulai, arung jeram. Namun sebelumnya kami melakukan scouting dulu, yaitu melihat kondisi sungai. Yang kami lakukan saat itu adalah scouting darat. Saat scouting kami menyamakan persepsi yang mana mainstream sungainya, dan beberapa hambatan sungai yang ada seperti hole dan steiner. Standing hole yang terbentuk terlihat banyak karena debit sungai saat itu sedang besar setelah hujan yang intens disana.
Lalu siswa dibagi per kloter berdasarkan kelompok untuk simulasi self rescue, yaitu dengan renang defensive dan offensive. Renang defensive adalah renang mengikuti arus sungai, kita membiarkan tubuh kita berenang sesuai arah arus. Yang perlu diperhatikan pelampung yang baik dan pas dibadan, helm, dan kaki harus terangkat untuk menghindari terjepit dibebatuan dasar sungai. Jika dalam keadaan rescue yang sebenarnya, dayung tidak boleh terlepas. Saat terjatuh dari perahu, pastikan peralatan seperti pelampung, helm, dan dayung ada, tidak terlepas. Sedangkan renang offensive adalah renang melawan arus sungai, ini dilakukan untuk menepi atau menggapai perahu. Disini kita benar-benar mengerahkan kekuatan kita untuk berenang. Bagi yang tidak bisa berenang, ini menjadi perjuangan yang lebih. Namun menurut saya berenang akan lebih mudah denga dayung dipegang.
Setelah semua siswa melakukan simulasi self rescue, kami diinstruksikan untuk melakukan pengarungan pendek. Kami membawa perahu ke titik awal dengan teknik portaging. Portaging adalah membawa perahu yang sudah diisi angin dengan kepala secara bersama-sama.
Pengarungan pendek dibagi 2 kloter, kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 mendapat giliran pertama. Sehingga saya dan saudara-saudara yang lainnya menunggu giliran.
Namun karena terjadi incident, pengarungan pendek dihentikan. Saudaraku kelompok 1 melebihi titik akhir pengarungan pendek. Sehingga mereka berhenti sampai jembatan lama, dimana itu adalah titi akhir untuk pengarungan panjang.
Kami pun kembali ke tempat kemah untuk membuat bivak dan memasak makan malam. Menu kelompok 4 kali ini sop dan telur asin. Hujan menemani saat saat kami mempersiapkan semuanya, namun beruntung hujan mereda setelah waktu makan. Setelah itu kami diinstruksikan untuk cek kesehatan lalu pergi tidur.
Pagi harinya kami dibangunkan kali ini tepat saat adzan subuh berkumandang. Kami kembali dengan kegiatan mempersiapkan sarapan dan bongkar bivak lalu binjas. Sarapan dilakukan setelah semua itu. Kelompok 4 mendapat teguran karena porsi makanannya sedikit, namun menurut saya itu cukup karena menunya yang beragam yaitu kornet, telur asin, udang, dan abon ditambah susu.
Kegiatan dilanjutkan untuk yang belum kebagian pengarungan pendek, yaitu kelompok 4, kelompok 5, dan kelompok 6. Peralatan dibagikan per orang per kelompok. Pelampung, helm, dan dayung diberikan masing-masing. Dry bag, rescue row, sling dan karabiner diberikan sebagai peralatan kelompok. Kami semua memportaging perahu ke titik awal. Sampai disana kami melakukan body check, yaitu memastikan perlengkapan yang menjadi pengaman seperti helm dan pelampung sudah terpasang dengan baik dan dalam kondisi yang baik.
kelompok 4 ditemani Kang Eman dari angkatan Geger Patuha. Kami memulai pengarungan pendek dengan baik. Evaluasi dari pengarungan pendek adalah jeram akan mempersulit pendayungan, contohnya perahu jadi tidak stabil sehingga ketinggian pendayung kiri dengan kanan berbeda. Saat seperti itu mungkin yang kiri bisa mendayung tapi yang kanan tidak bisa karena bilah dayungnya tidak mencapai air.
Kami kembali memportaging perahu ketitik awal untuk pengarungan panjang. Setelah semua siap diperahu, badan digerak-gerakan kesegala arah untuk memastikan posisi duduk sudah baik. Perahu pun meluncur, melewat jeram-jeram citarum. Lengan-lengan kami mendayung kompak mengikuti mainstream Citarum. Cara-cara mendayung yang telah dipelajari digunakan disana. Ada dayung maju, dayung mundur, kiri balik, dan kanan balik. Kang Eman juga menjelaskan tentang ferrying. ferrying adalah teknik maneuver dengan memperhatikan bentuk belokan sungai dan arus yang ada sehingga sudut yang harus dibentuk oleh perahu sesuai dengan perkiraan.
Kami pun melakukan simulasi flip saat arus tidak begitu besar. Saat ada aba-aba pindah kanan atau kiri, semua orang dalam perahu menuju arah itu sehingga perahu terbalik. Perahu dikembalikan ke posisi semula menggunakan flip line. Yang perlu diperhatikan, dayung jangan sampai terlepas dari genggaman karena alat itu rentan untuk hilang.
Setelah melewati jeram-jeram Citarum, arus mulai tenang. Dayungan mulai sangat dibutuhkan untuk menggerakkan perahu. Disela-sela mendayung kami diajarkan lagu Ampar-Ampar Bivak. Mengambil nada lagu Ampar-Ampar Pisang dengan modifikasi lirik.
Pengarungan panjang berakhir di Jembatan lama, kami memporteging perahu ke jalanan. Selanjutnya perahu diangkut dengan angkot. Sampai di base camp kami beristirahat untuk makan siang snack dan solat. Terimakasih Palawa.
Kami membersihkan alat-alat yang telah dipakai seperti dayung, pelampung dan helm. Lalu Setelah saudara-saudara dari kloter dua selesai, kami bersama-sama membersihkan perahu. Setelah itu perahu dan peralatan lainnya dipacking. Kegiatan operasional berakhir. Kami dipersiapkan untuk pulang saat adzan magrib berkumandang.
Dua bekang datang untuk membawa kami kembali ke Jatinangor. Satu Bekang kami isi oleh carrier dan peralatan, satunya lagi untuk kendaraan kami ber-33 ditambah beberapa pelatih. Perjalanan pulang terasa lebih singkat. Sampai disana kami mengadakan apel dan akhirnya dibubarkan.
Operasional 1 berakhir, namun ini bukan akhir. Masih banyak yang harus ditempuh. Operasional-operasional lain menanti di depan sana. Namun apapun itu, semua harus dilewati untuk menjadi anggota Palawa, untuk menjadi lebih bangga lagi. Maka saat pelatih mengatakan siapa kalian, kami menjawab, Palawa! 

TEBING

 
Belay On, On Belay. Komunikasi  antara pemanjat dengan belayer yang harus diucapkan dengan lantang saat akan memulai pemanjatan. Ditambah  teori-teori dan materi-materi yang lain yang sudah diterima saya dan siswa diklat lainnya memantapkan kesiapan kami untuk berangkat ke medan operasional II, yaitu rock climbing di Citatah 90. Sesuai jadwal, kami berangkat pada hari Jum’at, 3 Mei 2013.
Sesuatu hal terjadi sesaat sebelum berangkat. Saudara kami Gavril tidak mendapat izin dari pihak keluarganya. Kesiapan untuk berangkat menjadi percuma saat orang tua tidak memberikan izin. Jumlah kami kian berkurang, dengan tidak diizinkannya saudaraku Gavril total kami tinggal 29 orang. Sudah 4 orang berkurang setelah medan operasional I.
Diklat harus tetap berjalan, saya dan 28 siswa diklat menggunakan bekang untuk menuju medan operasional II. Matahari terbenam di Jatinangor seakan mengantar keberangkatan kami menuju Citatah. Setibanya kami disana kami memulai dengan makan malam. Beruntung, makan malamnya adalah makanan yang dibeli sebelum keberangkatan sehingga tak memerlukan waktu untuk memasaknya. Setelah itu kami membuat bivak. Saya dan saudara-saudara kelompok 2 membagi tugas. Saudaraku Doni, Saudaraku Rizqi Mulia, Saudaraku Utami, dan sebagai Danru Saudaraku Diendra bersama-sama membangun 2 bivak untuk kami tidur malam itu. Setelah bivak berdiri kami diinstruksikan untuk melakukan cek medic lalu tidur untuk memulai kegiatan keesokannya.
Sabtu, 4 Mei 2013 kegiatan dimulai. Siswa diklat dibagi menjadi kelompok kecil, 1 kelompok beranggotakan 3 orang. Saya bersama saudaraku Diendra dan saudaraku Rizqi Mulia. Kegiatan dibagi menjadi 4 pos, pertama travers, kedua panjat, ketiga hauling, keempat ascending dan bolting.
Pos pertama travers ditujukan untuk melatih kemampuan membuat pengaman baik natural ataupun artificial. Pengertian traver itu sendiri ialah memanjat kesamping. Kebanyakan rekahan atau celah yang ada hanya cocok untuk python blade. Namun ada beberapa yang cocok untuk fren atau chok.
Pos kedua panjat adalah aplikasi penggunaan artificial anchor ke tebing dengan kita melakukan pemanjatan dari bawah. Tim menyepakati dahulu siapa yang akan menjadi leader, pemanjat kedua, dan cleaner. Saya menjadi leader, saudaraku Rizqi menjadi pemanjat kedua, dan Saudaraku Diendra menjadi cleaner. pemanjatan berjalan lancar tanpa ada incident yang berarti. Namun saya pribadi masih merasa kurang sigap dan fokus. Sehingga saat repling waktu sudah melebihi waktu maghrib. Kegiatan dilanjutkan besok.
Minggu, 5 Mei 2013 lanjut ke Pos ketiga, hauling. Disana kami berlatih tentang pemindahan beban.  kami berlatih A system, Z System, dan M System. Pertama-tama kami menggunakan prushik setelah itu kami menggunakan ascender. Prinsip utama untuk mengubah systemnya adalah pada system z, tali gaya pada system A diubah menjadi tali gaya, pada system M, tali gaya pada system Z diubah menjadi tali gaya.
Pos terakhir adalah Ascending dan bolting. Karena Ascending masih ada saudara kami yang masih berkegiatan disana, maka kami menuju bolting dahulu. Disana kita diajarkan bagaimana mengebor/ memaku tebing. Namun hal ini adalah pilian terakhir saat tidak ada lagi tonjolan, rekahan, celahan, atau natural yang bisa digunakan untuk tambatan, anchor, atau penambah ketinggian. Mengapa demikian? karena Hanger yang tertanam di tebing akan tertanam untu selamanya. jadi secara tidak langsung itu mengotori tebing,
Lalu kami melanjutkan kegiatan terakhir yaitu ascending. Ascending dilakukan untuk menghemat tenaga karena kita menggunakan ascender untuk naik, tidak memanjat. Khususnya saat kita melakukan pemanjatan dengan taktik Himalayan System. Hal yang harus diingat adalah saat kanan naik, maka bebankan ke sebelah kiri. begitu seterusnya.
Kegiatan berakhir untuk sebagian kami, namun masih ada saudara-saudaraku yang berkegiatan. Disela-sela waktu menunggu kami menyayikan lagu saya tunggu engkau. Hingga salah satu saudara kami yang di pos panjat berteriak Free Rope menandakan tali sudah bebas dan orang terakhir pun repling.
Operasional kali ini terasa berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan operasional sebelumnya. hal itu karena saat kami tiba di Jatinangor adalah waktu yang sama saat kami berangkat dari Jatinangor di hari yang berbeda. Matahari terbenam Jatinangor menyambut kami.

GUA

Operasional caving adalah yang paling ditunggu-tunggu karena merupakan pengalaman yang baru untuk mengunjungi gua, bermain di dalam kegelapan. Kami menuju kawasan karst Padalarang untuk menuju gu ayang akan dikunjungi. Seperti biasa bekang sudah siap sedia mengantarkan kami.
Jalan yang amat terjal membuat kami harus berhenti sejenak, karena bekang tak dapat melalui jalan yang biasa sehingga kami memutar. Tiba di lokasi operasional, kami disambut hujan deras. Namun hujan saja tak akan menghentikan langkah kami. Kami memulai dengan makan malam, ditengah hujan deras. Makanan yang sudah tak jelas wujudnya pun terpaksa kami makan, dengan tak nyamannya memakai ponco, dan tempat yang tidak datar.
Setelah makan kami mulai berjalan menuju lokasi camp. Saya dan rekan-rekan kelompok membagi tugas untuk membuat bivak. Hardi, Farah Qonita, Muniarsih, Risky Mulya dan Saya bekerjasama untuk membangun dua bivak untuk kami berlima. Di tengah hujan, bivak kami berdiri.
Pengalaman ini membuat saya terinspirasi untuk sebuah nama, yaitu Brisadi Estungkara. Kedua kata tersebut diambil dari bahasa sansekerta. Brisadi adalah tenda dan estungkara adalah kesanggupan menghadapi masalah.
Keesokan harinya kami memulai dengan kegiatan eksplorasi gua. Gua yang dituju adalah gua lalay. Sebelum memulai kami menyiapkan alat-alat yang akan dipakai. Danru kami, Farah Qonita memakai helm eksplorer.
Singkat cerita kami masuk ke dalam gua. Di kegelapan langkah terasa berat. Nafas begitu terasa hangat. Namun cahaya dari headlamp masih menerangi bagian-bagian gua yang lain, bagaimanapun kita harus mengeksplornya karena ini masih bisa dieksplor. Lorongnya mengecil dan berada diatas kepala kita. Sulit melaluinya dengan membawa carrier, untuk itu saya titipkan dulu carrier ke saudaraku Riski Mulya. Perlahan tapi pasti tonjolan dan rekahan di lorong itu aku genggam dan pijak untuk beralih ke posisi yang lain. Lorong itu singkat, dan membawa kita ke sebuah ruangan yang lebih besar dari ruangan sebelumnya. Dindingnya tak beraturan, namun yang jelas salah satu sisinya berbentuk diagonal dan penuh dengan guano.
Tak heran mengapa gua ini dinamakan gua lalay. Dalam bahasa Sunda, lalay berarti kelelawar. Gua ini menjadi sarang bagi kelelawar-kelelawar. Saat kami berkunjung kesana tak jarang kelelawar terbang di depan kami. Guano yang banyak di dalam gua juga menunjukan akan adanya kelelawar.
Di gua lalay terdapat ornamen-ornamen gua yang beragam. Ada goursdam, straw, stalaktit, stalakmit, kami mendapat kesempatan untuk mengabadikan ornament-ornamen tersebut. Disalah satu bagian gua kami mencoba untuk memotret dengan teknik melukis. Kang Aksel dan Kang Nanang memberitahu bagaimana caranya.
Setelah itu kami melanjutkan dengan pemetaan gua, bersama Kang Adun. Disini terdapat sedikit incident. Saudaraku Muniarsih dan Risky Mulya sempat terjatuh saat hendak turun ke bagian gua yang lebih rendah. Syukur tak ada luka serius dari mereka.
Malamnya kami kembal membuat bivak. Cuaca tidak hujan namun medan yang basah membuat pembuatan bivak sedikit terhambat. Saat membuat bivak, sesuatu masuk ke dalam telingan kanan saya. Serangga terbang bisa saya rasakan karena ia mengibas-kibaskan sayapnya di dalam telinga saya.
Awalnya saya abaikan serangga itu namun lama-kelamaan keberadaannya di telinga kanan saya mulai menggangu. Beruntung kelompok kami bisa menyelesaikan bivak dengan cepat. Hingga setelah makan malam saya dan saudaraku Hardi mendapat sebatang rokok atas reward dari kesigapan kami. Namun serangga di telinga saya mulai menimbulkan rasa sakit.
Maka setelah makan saya bermaksud untuk memberitahukannya pada medis saat cek medis. Tak disangka, serangganya telah masuk lebih dalam. Untuk itu tim medis menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Saat saudara-saudara saya yang lain beristirahat, saya di temani kang Iksan, kang Zul. dan medis berangkat menuju rumah sakit terdekat yaitu RS. Cibabat. Namun dari sana saya dirujuk ke RSHS untuk penanganan yang lebih baik.
Setelah ditangani oleh bagian gawat darurat, akhirnya saya kembali ke medan operasional. Adzan subuh menandai kembalinya saya ke kawasan gua. Saya beristirahat di saung, jalan menuju camp. Sebenarnya saya tidak terlalu sakit, namun melihat reaksi medis saya pun khawatir terutama bila nanti menjadi tuli. Bersyukur ini langsung ditangani.
Esoknya saya bangun, telinga kanan saya mengeluarkan darah. Namun tidak terasa sakit. mudah mudahan semuanya baik-baik saja. Saya pun kembali mengikuti kegiatan tanpa binjas dahulu. Saya langsung bergabung saat sarapan.
Lalu kegiatan kami yang terkahir tiba, yaitu Rigging dan SRT. Ini yang saya tunggu. cerita dari kelompok lain yang sudah berkegiatan ini, lokasinya jauh ke atas lagi. Dan ternyata itu benar, jalan yang harus ditempuh dengan bawaan yang lumayan cukup menguras keringat.
Kegiatan dilakukan perkelompok, kelompok saya dipilih saudaraku Hardi sebagai leader.  Kedua saudaraku Muniarsih, ketiga saudaraku Risky Mulya, dan saya sebagai cleaner.
Kelompok kami berjalan lancar namun kelompok satunya mengalami incident. Saudaraku Diendra terjatuh saat akan mencapai mulut gua. Beruntung tak ada cedera berarti.
Singkat cerita operasional berakhir. bekang mengantarkan kami kembali, namun sedikit tertahan karena ada masalah di jalan turun sebelum ke jalan raya.      
Kejadian dengan serangga sungguh kecelakaan yang konyol tapi hal ini justru menimbulkan hikmah tersendiri. Sehingga bertambah lagi alasan mengapa saya harus bergabung dengan Palawa. Kami tiba dan langit pun kembali hujan.

GUNUNG HUTAN


Sakit di kaki terasa semakin menjadi. Beban carier terasa semakin berat, padahal logistic perbekalan sudah berkurang banyak. Aku tak tahu ini hanya sugesti atau apa, tapi setibanya kami di Jatinangor semuanya terasa semakin parah.
Udara Jatinangor terasa lebih panas. Mungkin Aku yang lupa akan udara Jatinangor, karena telah sepekan kami berada di kawasan Bandung Selatan. Ditambah lagi kabar akan dilanjutkannya rangkaian Diklatdas menuju Medan Operasional Susur Pantai, seakan menghanguskan diri ini dengan bayang-bayang panasnya dataran pantai.
Aku pun mulai melihat saudara-saudaraku yang lain sudah tak bisa lagi mengendalikan emosinya. Ada yang merajuk, berurai air mata, melemahkan dirinya dengan pikiran-pikirannya.
Namun bersyukur masih ada saudaraku yang bersemangat dan menyemangati kami semua, sehingga dalam getir angkatan 27 masih bisa melangkah.
          Setelah berjalan dari awal diturunkan di gerbang atas, kami diberhentikan di dekat gedung Bale Santika. Disana kami diberikan waktu untuk membersihkan diri sambil di briefing mengenai kegiatan selanjutnya. Kami akan berjalan menuju secretariat dan menyimpan carier. Lalu diberi kesempatan untuk mencari tambahan perbekalan dan kembali berkumpul pukul 21.00 di secretariat bersama.
          Mau tak mau ternyata diklatdas belum usai. Bagaimanapun aku harus menyelesaikannya. Semangat yang mulai redup harus tetap dijaga agar tidak padam. Namun ini sulit, karena ditengah-tengah briefing pikiran ini tak bisa fokus. Kampus seperti tempat yang asing. Aku mulai mengingat-ingat kembali bagaimana Medan Operasional Gunung Hutan ini diawali. Rangkaian materi kelas, simulasi, dan cek alat yang telah dilakukan samar-samar kembali terbayang.
          Seperti materi kelas yang diberikan setiap sebelum operasional. Materi untuk gunung hutan terbilang sedikit dibadingkan dengan materi-materi untuk operasional lainnya. Sabtu, 6 Juni 2013 kami memulai dengan materi pertama. Pematerinya ialah Kang Bayu Baruna atau biasa dipanggil Kang Barbar.”Saat di keadaan ekstrem, inner strength kita menyeruak”, begitu sebagian kecil perkataan Kang Barbar yang sangat ku ingat. Awalnya kalimat itu terdengar klise, namun saat aku benar-benar merasakan bagaimana dinginnya kawasan hutan bandung selatan kalimat itu mulai terasa kebenarannya. Apatis yang mulai membuat kita mulai melemah. Namun tekanan dari pelatih dan dorongan dari saudara-saudara yang lain membuat kekuatan muncul. Walau rasanya tak mungkin, tapi semua rintangan dapat dilalui.
Lalu materi navigasi darat yang disampaikan oleh Kang Hidayat atau biasa dipanggil kang Dayat. secara garis besar materi tersebut membahas resection, intersection, teknik pergerakan. penerapannya di medan operasional saat kami berada di perkebunan teh, sebelum memasui hutan. Disana kami melakukan intersection dan resection. Untuk resection, dua titik ekstrimnya adalah bukit dua-dua dan gunung patuha.
Selanjutnya ada materi survival yang disampaikan Kang Margo. Survival adalah bertahan dalam kondisi yang tidak menentu. Kang Margo menyampaikan banyak hal tentang survival karena pengembaraanya dulu adalah gunung hutan, tapi dari sekian banyak yang disampaikan menurutku survival adalah usaha mempertahankan diri dengan improvisasi dan rencana untuk keluar dari kondisi tidak menentu yang sedang dialami.
Selain itu juga ada Kang Yuda, tim medis dari As syifa yang memberikan materi medic darurat. aku excited untuk mengikuti materi ini, terlebih setelah kejadian serangga di operasional caving. Maka saat materi aku turut aktif dan kadang menjadi korban untuk beberapa pertolongan (alibi, sebenarnya karena tubuhku paling kecil diantara saudara laki-laki yang lain), tapi tidak seluruh materi dapat ku mengerti, mungkin karena penerapannya hanya sekedar dalam keadaan darurat.
Namun ada satu materi kelas yang aku tak ikuti karena saat itu ada saudaraku dari Kuningan yang berkunjung, sehingga aku harus menemaninya selama berada di Bandung.
Simulasi dilakukan disekitaran kampus, sedikit keluar sampai akhirnya aku tahu bahwa ada makan pahlawan Unpad.
Cek alat dilakukan tiga kali. Lebih banyak dibandingkan cek alat yang dilakukan saat medan operasional yang lainnya. Masuk akal bagiku karena lama perjalanan operasional akan berlipat-lipat lebih lama dari pada operasional lainnya. Namun sebagian saudara-saudaraku malah mulai turun semangatnya (begitu juga aku) dan saudaraku-saudaraku yang lain mulai berguguran karena berbagai alasan. Nia karena dilarang orang tua, Utami bentrok dengan jadwal praktikum, Farah Qoonita dan Gresty karena cedera yang tak bisa sembuh saat waktu keberangkatan, dan Nia karena tak dapat izin dari orang tuanya.
Hari Jum’at, 29 Juni 2013 kami dikarantina sebelum keberangkatan. Kami dikumpulkan untuk cek alat terakhir di sekber lalu tidur disana agar dapat segera berangkat esok harinya. Kami semua excited untuk mengikuti medan operasional kali ini, dengan harapan kami ber-23 dapat berdiri tegak di hari pelantikan. Semua peralatan sudah disiapkan, tak lupa fisik dan materi-materi yang telah diterima. Sial bagiku, ada peralatan yang ketinggalan. Veldples, yang menjadi tempat untuk membawa air minum tak terbawa. Untung saja, Farah Qonita bisa meminjamkan veldplesnya. Namun karena kurang sigap, cek alat terakhir tersebut molor dari jadwal yang seharusnya sehingga mengurangi waktu istirahat kami.
Keberangkatan yang dijadwalkan pukul 6 pagi ngaret menjadi pukul 7. Susah merubah hal ini, namun jika telah menjadi anggota telat seperti ini tak boleh terjadi lagi harapku dalam hati.
Sebelum berangkat kami apel dahulu, dan danlas yang terpilih adalah saudaraku Anisa. padahal besar harapanku untuk bisa menjadi danlas karena dari awal rangkaian aku hanya pernah menjadi danru saat operasional arung jeram. Tak apa, mungkin aku belum layak pikirku.
perjalanan dengan bekang terasa lebih lama. Sepanjang jalan mataku selalu mencoba mencuri pandang keadaan jalan lewat celah-celah dalam bekang. Beberapa saudaraku bahkan sempat tertidur. Mungkin karena waktu istirahat yang tercuri ketidak sigapan kami atau karena angin yang masuk kedalam bekang yang menina bobokan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Tugas Etika dan Regulasi Penyiaran

Mata Kuliah         : Etika dan Regulasi Penyiaran Dosen Pengampu      : Dadan Saputra, S.Pd, M.Si Analisa Konten Siaran NET TV berdasarkan P3SPS 2012 pada Jum’at, 28 November 2014 pukul 20.00 – 22.00 WIB NET TV adalah lembaga penyiaran swasta yang menggunakan jaringan lokal disetiap kota yang belum lama berdiri. Di Bandung sendiri NET TV menggunakan frekuensi bekas Space Toon. Saat menonton untuk mengerjakan tugas ini, saya menonton sebagian acara Ini TalkShow, acara 86, dan sebagian acara The Comment. Pada acara Ini Talkshow   ada sedikit pelanggaran. Saat para talent saling menyela satu sama lain dan akhirnya keluar ucapan dengan nada tinggi dari presenter yaitu Sule. Adegan melanggar SPS yaitu BAB XIII PELARANGAN DAN PEMBATASAN KEKERASAN Bagian Kedua tentang Ungkapan Kasar dan Makian Pasal yang berbunyi “ Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal, yang m...

Hama, Kartun, dan Korupsi

Tikus ini mampir ke rumah, minta selfie. Ngarana make hp auto focusna pasti ka nu cicing. Nu hirup mah da teu daek cicing sekilas cuma hitam, perhatikan ada sesosok mayat tikus terbujur di lantai Tulisan ini hadir karena keresahan saya akan semakin banyaknya tikus di rumah dan lingkungan saya. Bukan saya tidak resah dengan Koruptor, tapi banyaknya koruptor yang muncul - dengan kata lain tertangkap - itu mengindikasikan rantai makanan berjalan dengan baik. Kalau zaman dahulu tidak terdengar ada kasus korupsi, itu tak lain karena tak ada karnivora untuk koruptor zaman itu. Selain itu peran awak media juga sangat dibatasi dan dikendalikan oleh pemerintah saat itu. pemandangan dari kaki gunung Manglayang Well, di depan rumah saya dulunya ada sawah yang cukup luas. Di belakang rumah tetangga saya memiliki bangunan tempat penyimpanan (lumbung) padi yang sekarang tidak dipakai lagi karena Mereka tidak punya lagi sawah, lahan yang menghasilkan padi. Saat SD, saya inga...