| Tikus ini mampir ke rumah, minta selfie. Ngarana make hp auto focusna pasti ka nu cicing. Nu hirup mah da teu daek cicing |
| sekilas cuma hitam, perhatikan ada sesosok mayat tikus terbujur di lantai |
Tulisan ini hadir karena keresahan saya akan semakin banyaknya tikus di rumah dan lingkungan saya. Bukan saya tidak resah dengan Koruptor, tapi banyaknya koruptor yang muncul - dengan kata lain tertangkap - itu mengindikasikan rantai makanan berjalan dengan baik. Kalau zaman dahulu tidak terdengar ada kasus korupsi, itu tak lain karena tak ada karnivora untuk koruptor zaman itu. Selain itu peran awak media juga sangat dibatasi dan dikendalikan oleh pemerintah saat itu.
| pemandangan dari kaki gunung Manglayang |
Well, di depan rumah saya dulunya ada sawah yang cukup luas. Di belakang rumah tetangga saya memiliki bangunan tempat penyimpanan (lumbung) padi yang sekarang tidak dipakai lagi karena Mereka tidak punya lagi sawah, lahan yang menghasilkan padi. Saat SD, saya ingat betul saya diberitahu bahwa habitat tikus adalah sawah, bukan rumah. Dengan fakta seperti itu saya berasumsi bahwa tikus yang ada di rumah saya adalah tikus yang bermigrasi dari sawah atau lumbung. Padahal kalau sekarang saya pikir lagi, sawah pun sama seperti rumah. Maksudnya ini dibuat oleh manusia, bukan disediakan oleh Tuhan untuk beragam makhluk hidup. So, saat manusia belum mengenal sistem pertanian dengan sawah atau kebun, nampaknya wilayah rumah saya adalah hutan karena berada tidak jauh ke puncak gunung Manglayang yang memiliki ketinggian 1818 mdpl (meter diatas permukaan laut). Jadi tikus yang ada di rumah saya adalah tikus hutan.
Jika diperhatikan, pola aktivitas tikus itu seperti pola aktivitas anak muda di kala week end atau saat liburan. Mereka mulai beraktivitas saat matahari terbenam. Antara pukul +19.00 tikus-tikus akan berkeliaran di sekitar dapur, kamar mandi, atau gudang sampai waktu menunjukan pukul +05.00 atau saat matahari mulai ngintip. Tak beda jauh dengan anak muda yang baru pulang party, kongkow, ngedate, atau olahraga malam.
Tikus-tikus ini makan sisa makanan , menggerogoti sampah, daun pintu, atau plafon. Mereka modol (Buang Air Besar), pipis di setiap tempat yang dilaluinya. Mereka bergerak cepat seperti gravitasi bumi (+9,8 m/s). Di sawah tikus digolongkan sebagai hama, begitu pun di rumah. Dengan perilakunya itu keberadaan mereka tentu merugikan. Kalau saja mereka tidak menggerogoti daun pintu dan urinasi sembarangan, mereka akan sangat berguna untuk membersihkan sisa makanan dan sampah, asal sampahnya dihabiskan sampai tanda mengingat saya tinggal di Kabupaten Bandung, Kecamatan Cilengkrang, Desa Jatiendah, RW 02 RT 01 yang tidak memiliki pembuangan atau penampungan sampah.
![]() |
| cuplikan fim ratatouille |
Namun sejak dahulu orang-orang mengenal sosok tikus sebagai hewan yang lucu. Terbukti dengan adanya serial kartun fenomenal Mickey Mouse (1928) karya Walt Disney, Tom and Jerry (1940) karya Hanna-Barbera, dan masih banyak lainnya yang biasa-biasa saja. Juga animasi seperti Stuart Little (1999), ratatouille (2007), dll. Mereka digambarkan sebagai karakter yang lucu, cerdik, dan menjadi kesayangan semua orang. Mickey yang lucu terlibat romansa dengan Minie, Jerry yang selalu berusaha mendapatkan keju dan lolos dari sergapan Tom, Stuart yang diadopsi oleh keluarga Little, dan Remy yang memiliki bakat dalam memasak membuat jatuh hati penonton dan lupa akan fakta tikus yang nyata. Hal ini menjadi suatu kejadian konkret dari pernyataan nothing is imposible, karena lewat film, kartun, atau fiksi sebuah fakta atau pakem bisa diputar balikan. Dengan kata lain, saat ada mimpi, harapan, atau khayalan tentang apapun dan tak bisa terwujud, apapun alasannya wujudkanlah dalam fiksi. Minimalnya dalam sebuah tulisan.
Kenyataannya tak sedikit orang yang melompat kaget bahkan takut saat bersua tikus di rumah. Si tikus yang sensitif dengan gerakan tiba-tiba disekitarnya sudah tentu akan menghindar. Hewan yang hidup 2-3 tahun ini biasanya berjumlah banyak karena tiap kali bereproduksi Ia bisa menghasilkan 3-10 ekor tikus. Tubuhnya yang dipenuhi bulu membuat banyak orang geli dan jijik dengan tikus. Kelakuannya yang doyan menggerogoti benda-benda disekitarnya membuat Ia dijadikan simbol dari perilaku korup. Tindakan yang dilakukan karena memang harus dilakukan sebagai ketentukan Tuhan pada tikus dianggap sama dengan tindakan korupsi. Nyatanya Koruptor sudah tentu tidak harus melakukan korupsi, Ia bisa menolaerlebihk atau "katankan tidak pada korupsi". Tidak melakukan korupsi tidak akan menggangu fisiknya. Untuk itu mestinya jika penerapan nilai bahwa korupsi adalah kejahatan besar berhasil, tentunya akan ada kasus yang misalnya bertajuk "Pengusaha X dilaporkan ke KPK atas percobaan penyuapan pada Anggota Legislatif Z dan Gubernur Y", bukan hanya pejabat dan pengusaha yang ditangkap karena aktifitas korupsi. Tak adil bagi koruptor disamakan dengan tikus, Mereka lebih buruk dari tikus. Bukan berarti tikus itu buruk tapi kelakuan urinasi sembarangan dan menggerogoti segala benda disekitarnya bisa disejajarkan dengan menerima suap dan menggunakan uang yang bukan haknya.
| hamparan sawah, di sekitar kampus UNPAD Jatinangor. Gambar diambil dari atas jembatan cincin. Kabarnya akan di bangun apartemen |
Dibalik kelakuan buruk tikus, mereka bermanfaat dan dapat dimanfaatkan. Semua makhluk hidup tentunya bermanfaat karena memiliki peran dalam rantai makanan. Rantai makanan menjaga tingkat populasi makhluk hidup dan ekosistem tetap seimbang. Menjaga semua berjalan sesuai siklusnya. Jika ada yang tidak beres di salah satu faktor, tentu akan mengganggu siklus. Saat SD guru dan buku menyatakan, "Padi dimakan tikus, tikus dimakan ular, ular dimakan elang, elang mati terurai bakteri, bakteri membantu pertumbuhan padi" (mohon maaf kalau salah). Saat tikus populasinya berlebih, padi tentu akan makin sedikit. Saat padi sedikit orang harus beli beras dengan harga lebih mahal, saat beras mahal, pemerintah tentu akan mengimpor beras. Saat beras diimpor para petani beras tentu kehilangan pendapatannya, dan para pemain di proses impor tentu akan berlebih pendapatannya. Begitulah rantai makanan terjadi dan menjadi siklus.
![]() |
| nanaonan coba beurit dikieuan.!? |
Pemanfaatan tikus oleh manusia banyak ragamnya. Diantaranya tikus yang dijadikan hewan peliharaan. Namun bukan tikus yang ada di rumah atau sawah yang dijadikan peliharaan. Tikus yang biasa dipelihara antara lain tikus putih, tikus golden, dan tikus jepang. Harga seekornya berkisar Rp 5000 - Rp 20000. Tikus-tikus ini ada yang hanya sekedar dipelihara, ada juga yang dipelihara untuk makanan reptil. Selang itu ada juga tikus-tikus yang berkontribusi dalam kegiatan penelitian sebagai objek percobaan. Ada beberapa alasan kenapa tikus dijadikan objek percobaan yang saya baca di http://www.kumpulanmisteri.com/2015/04/inilah-alasan-kenapa-tikus-selalu-jadi.html
Pun dengan koruptor, baiknya dijadikan objek percobaan saja. Lebih bermanfaat untuk kegiatan pendidikan, penelitian, dan kesehatan. Dari pada dihukum mati 'tok', lebih baik ya dimanfaatkan dulu raganya. Ini pun andai kata pemerintah ada kemauan untuk membuat jera para koruptor dengan hukum layaknya yang diterapkan pada para pengedar narkoba yang sudah beberapa terdakwa divonis hukuman mati. Kalau pun tidak Tuhan sudah menyiapkan persidangan yang adil bagi setiap perbuatan makhluk hidup di dunia, bagi yang meyakininya.
*dengan berbagai wangsit dari abah google


Komentar
Posting Komentar